Gaborone, Bharata Online - Botswana berupaya mengubah kemitraan strategisnya dengan Tiongkok menjadi kerja sama praktis yang mendukung diversifikasi ekonomi, kata Menteri Hubungan Internasional Botswana, Phenyo Butale, di tengah kunjungan kenegaraan Presiden Duma Gideon Boko ke Tiongkok.
Tiongkok dan Botswana menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1975 dan meningkatkan status hubungan tersebut menjadi kemitraan strategis pada KTT Forum Kerja Sama Tiongkok-Afrika (Forum on China-Africa Cooperation/FOCAC) tahun 2024 di Beijing. Boko mengunjungi Tiongkok mulai tanggal 12 hingga 17 Oktober 2026, yang merupakan kunjungan pertamanya ke negara tersebut sejak menjabat.
Dalam wawancara dengan China Global Television Network (CGTN), Butale menegaskan bahwa kunjungan Presiden Boko menandai momen penting untuk mewujudkan hubungan diplomatik ke dalam pertumbuhan yang nyata.
"Kami memandang ini sebagai kesempatan untuk merumuskan langkah-langkah praktis guna menata ulang dan menyegarkan kembali hubungan luar biasa yang selama ini terjalin antara kami dan Tiongkok," kata Butale.
"Ini adalah kesempatan bagi Presiden untuk memaparkan visi pemerintahan baru serta menyampaikan kepada mitra Tiongkok mengenai rencana transformasi ekonomi kami dan bagaimana mereka dapat membantu kami. Tiongkok telah menempuh perjalanan pembangunan yang sangat mengesankan, dan kami yakin dapat belajar darinya untuk meningkatkan arah pembangunan kami. Ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk mematangkan sektor-sektor prioritas kerja sama," ujar Butale.
Landasan bagi ambisi ekonomi ini adalah kemitraan yang telah terjalin lama. Tiongkok telah mengirimkan tim medis ke Botswana, menawarkan beasiswa universitas, dan mendukung pertukaran di bidang pertanian. Perusahaan-perusahaan Tiongkok juga telah mengerjakan proyek jalan dan jalur kereta api, serta pembangunan perkotaan dan infrastruktur telekomunikasi.
Kedua negara kini berupaya memperluas kerja sama dalam kerangka Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) ke bidang energi terbarukan, pertanian cerdas, dan tata kelola digital. Peningkatan konektivitas transportasi regional juga dapat memberikan akses yang lebih baik ke pelabuhan laut bagi Botswana—negara yang tidak memiliki akses langsung ke laut (landlocked), dalam upayanya mendiversifikasi ekonomi.