Chongqing, Bharata Online - Industri informasi geospasial Tiongkok mencatatkan total nilai output lebih dari 900 miliar yuan (sekitar 2.426 triliun rupiah) pada tahun 2025, meningkat 5,9 persen secara tahunan, menurut data resmi terbaru yang dirilis pada hari Kamis (15/10) oleh Asosiasi Industri dan Ilmu Pengetahuan Geospasial Tiongkok (China Association for Geospatial Industry and Sciences/CAGIS).

Pada tahun tersebut, total output industri mencapai 900,5 miliar yuan (sekitar 2.427 triliun rupiah), dengan jumlah perusahaan yang beroperasi di sektor ini mencapai sekitar 269.000, naik 11,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka-angka itu menunjukkan pergeseran dari ekspansi cepat menuju pembangunan berkualitas tinggi, dengan rantai industri yang kini telah lengkap, mencakup pengumpulan data, pemrosesan cerdas, penerapan skenario, hingga layanan komprehensif.

Sementara itu, vitalitas pasar industri ini terus tumbuh, dengan usaha kecil dan menengah (UKM) yang menjadi motor penggerak inovasi. Sebanyak 447 perusahaan geospasial telah diklasifikasikan sebagai perusahaan "raksasa kecil" (little giant) yang berspesialisasi dalam sektor-sektor khusus (niche), mencakup 2,5 persen dari seluruh perusahaan serupa di tingkat nasional.

"Di tengah transisi antara penggerak pertumbuhan lama dan baru, industri geospasial secara keseluruhan telah mencapai kemajuan yang stabil, dengan peningkatan kualitas dan skala yang lebih luas. Investasi penelitian dan pengembangan yang terkait dengan informasi geospasial tetap berada pada tingkat yang tinggi. Berbagai pencapaian inovatif terus bermunculan. Standar teknis terus membaik secara bertahap. Fondasi industri pun terus diperkuat, sementara penerapannya menjadi semakin luas dan mendalam," ujar Yi Shubai, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri dan Ilmu Pengetahuan Geospasial Tiongkok (CAGIS).

Perkembangan stabil industri informasi geospasial ini didukung oleh infrastruktur antariksa. Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok mempertahankan laju peluncuran satelit penginderaan jauh sipil yang intens, dengan menambahkan lebih dari 100 satelit ke luar angkasa setiap tahunnya. Hingga akhir tahun 2025, Tiongkok telah meluncurkan total 694 satelit penginderaan jauh sipil, termasuk 126 satelit baru yang ditempatkan di orbit sepanjang tahun 2025 saja. Pembangunan sistem BeiDou generasi berikutnya juga terus berjalan dengan teratur, dengan peningkatan sistem di orbit telah diselesaikan sepenuhnya pada tahun ini.

Berdasarkan rencananya, Tiongkok akan terus memperdalam penelitian mengenai teknologi cerdas spasio-temporal, memajukan pengelolaan sumber daya data publik, seperti jaringan stasiun referensi navigasi dan penentuan posisi satelit, secara resmi, serta menggali nilai dari elemen data geospasial untuk mendukung industri-industri baru, termasuk kendaraan cerdas (intelligent driving) dan kecerdasan yang terwujud dalam bentuk fisik (embodied intelligence). Selama periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030), Tiongkok menargetkan untuk mendorong nilai total output tahunan rata-rata industri geospasial hingga melampaui ambang batas 1 triliun yuan (sekitar 2.694 triliun rupiah).