Bangkok, Bharata Online - Pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang semakin didorong oleh teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik, dan energi bersih, kini membentuk ulang rantai pasok serta menopang kemakmuran regional di seluruh Asia. Hal ini disampaikan oleh para ekonom yang berkumpul dalam Pertemuan Tahunan 2026 Dana Moneter Internasional (IMF) dan Grup Bank Dunia di Bangkok.

Selama beberapa dekade, ekspansi ekonomi Tiongkok ditandai oleh industrialisasi pesat, yang mengubah negara tersebut menjadi pusat manufaktur global dan secara mendasar mengubah pola produksi, perdagangan, serta konsumsi dunia.

Saat ini, Tiongkok tengah mengalami pergeseran mendalam lainnya, beralih menuju model yang digerakkan oleh inovasi dengan landasan berupa algoritma, kecerdasan buatan, dan teknologi generasi mendatang. Evolusi teknologi itu juga terjadi di sebagian besar wilayah Asia, yang tetap menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, meskipun menghadapi tekanan ekonomi global yang kian meningkat.

Diskusi dalam pertemuan di Bangkok tersebut menekankan bahwa investasi teknologi dan rantai pasok yang terus berkembang akan menjadi motor penggerak fase pertumbuhan regional berikutnya.

"Hasil yang lebih positif dapat tercapai jika investasi yang terkait dengan AI terbukti lebih berkelanjutan dan peningkatan produktivitas terealisasi lebih cepat dari perkiraan," ujar Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik di IMF.

Tiongkok tetap menjadi pusat dari dinamika regional ini. IMF memproyeksikan ekonomi Tiongkok akan tumbuh sebesar 4,5 persen tahun ini, angka yang selaras dengan target pemerintah Tiongkok dan jauh di atas rata-rata pertumbuhan global.

Namun, signifikansi pertumbuhan ini melampaui sekadar angka-angka utama. Pasar domestik Tiongkok yang sangat luas serta kapabilitas teknologinya yang terus maju menciptakan peluang baru bagi perdagangan dan investasi, khususnya di Asia Tenggara.

"Tiongkok memimpin di berbagai bidang. Kita jelas memperoleh banyak manfaat, terutama dalam sektor kendaraan listrik dan panel surya fotovoltaik. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana menarik investasi yang mampu menghadirkan teknologi baru di sektor-sektor tersebut, serta memastikan komitmen investasi dapat diwujudkan menjadi investasi nyata," kata Kwanpadh Suddhi-Dhamakit, Pejabat Senior Negara di Kantor Bank Dunia untuk Thailand.

Di Thailand, perusahaan-perusahaan asal Tiongkok tengah memperluas investasi mereka di sektor manufaktur, kendaraan listrik, dan energi bersih. Di seluruh Asia Tenggara, rantai pasok sedang dikonfigurasi ulang seiring dengan munculnya industri-industri baru dan berkembangnya hubungan ekonomi yang melampaui paradigma perdagangan tradisional.

Setelah memantapkan posisinya sebagai kekuatan utama dalam teknologi berkembang, pengaruh ekonomi Tiongkok diperkirakan akan semakin dalam seiring dengan perubahan yang dibawa oleh kemajuan-kemajuan tersebut terhadap industri dan arus investasi global. Di saat pasar mengalami pergeseran, hubungan perdagangan pun ditata ulang, dan aturan persaingan ekonomi turut berevolusi.

Dunia, yang dahulu memandang Tiongkok terutama sebagai "pabrik" global, kini semakin melihat negara tersebut sebagai sumber inovasi yang vital—sebuah pergeseran yang berpotensi mendefinisikan ulang jauh lebih banyak hal daripada sekadar masa depan ekonomi Tiongkok itu sendiri.