Beijing, Bharata Online - Presiden Botswana, Duma Gideon Boko, menghadiri Forum Perdagangan dan Investasi Tingkat Tinggi Botswana-Tiongkok di Beijing pada hari Kamis (15/10). Dalam kunjungan kenegaraan pertamanya ke Tiongkok sejak menjabat ini, kedua negara sepakat untuk meningkatkan hubungan mereka menjadi kemitraan kerja sama strategis komprehensif.

Presiden Boko melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok atas undangan Presiden Xi Jinping, yang berlangsung dari tanggal 12 hingga 17 Oktober 2026.

Selama forum tersebut, Presiden Boko bertemu dengan sejumlah perwakilan dunia usaha dari berbagai sektor, termasuk perdagangan dan ekonomi, pertambangan, serta infrastruktur.

"Kecepatan pembangunan Tiongkok merupakan sesuatu yang ingin ditiru oleh Botswana agar kami dapat berkembang sepesat Tiongkok dalam waktu sesingkat mungkin. Pertemuan ini menjadi bukti nyata betapa luasnya jangkauan kerja sama yang ada, serta keinginan kuat untuk memanfaatkan peluang yang dibuka oleh pemerintah Tiongkok—berupa kebijakan nol tarif—bagi Botswana dan seluruh benua Afrika," ujar Boko.

Tiongkok dan Botswana telah mengeluarkan pernyataan bersama mengenai peningkatan hubungan bilateral mereka menjadi kemitraan kerja sama strategis komprehensif. Dalam dokumen tersebut, kedua belah pihak berkomitmen untuk memperkuat kerja sama dalam kerangka Prakarsa Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative), sekaligus memperluas kolaborasi di bidang perdagangan dan investasi, pertambangan, pertanian, serta sains dan teknologi.

"Menurut saya, ini adalah peluang yang sangat besar dan signifikan bagi kami, para pengusaha muda yang sedang mencari investor, terutama karena kami masih berada di tahap awal dalam sektor pertambangan. Jadi, ini merupakan kesempatan emas untuk menemukan calon investor bagi proyek-proyek kami," kata Aubrey Molefi, Direktur Steadfast Energy.

"Sangat menarik, apalagi setelah Presiden kami menyampaikan pidato mengenai potensi dan manfaat luar biasa yang dapat dicapai oleh Tiongkok dan Botswana. Sudah banyak perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Botswana, dan menurut kami, iklim saat ini sangat mendukung bagi Tiongkok untuk membawa hubungan kerja sama ini ke tingkat yang lebih tinggi lagi," ungkap seorang pengusaha lain yang hadir dalam forum tersebut.

Tahun lalu, nilai perdagangan antara Tiongkok dan Botswana melampaui 1,2 miliar dolar AS (sekitr 21,6 triliun rupiah), yang mencerminkan peningkatan lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok, agenda Presiden Boko juga mencakup kunjungan ke Provinsi Fujian di wilayah timur Tiongkok.