Shanghai, Bharata Online - Peluncuran komersial 6G masih butuh waktu bertahun-tahun lagi, namun Shanghai sudah bersiap menyongsong teknologi seluler generasi berikutnya, dengan Distrik Songjiang yang kini muncul sebagai salah satu pusat utama pengembangan teknologi terkait 6G di kota tersebut.

Sebuah kawasan industri seluas 123.000 meter persegi di sana kini menjadi lokasi bagi lebih dari 120 perusahaan, termasuk sekitar 40 perusahaan yang terkait dengan rantai industri 6G.

Salah satu perusahaan tersebut sedang mengembangkan teknologi antarmuka otak-komputer (brain-computer interface) yang dapat dikenakan. Perangkat mereka saat ini memungkinkan pengguna memesan kopi tanpa harus menyentuh layar. Pihak pengembang menyatakan bahwa teknologi serupa nantinya dapat digunakan untuk mengendalikan peralatan rumah pintar dan robot.

Seiring dengan meningkatnya jumlah perangkat yang saling terhubung, perusahaan tersebut menyebutkan bahwa jaringan masa depan harus mampu menangani jauh lebih banyak koneksi secara bersamaan.

"Sebagai contoh, saat ini sebuah ponsel pintar paling banyak hanya dapat terhubung dengan sekitar sepuluh perangkat Bluetooth. Namun, seiring pesatnya pertumbuhan perangkat rumah pintar dan nantinya robot, 6G harus mampu mendukung koneksi jarak pendek secara simultan dengan lebih dari 20, atau bahkan lebih dari 30 perangkat," ujar Zhao Xi, General Manager Guoke Xinnao (Shanghai) Intelligent Technology.

Perusahaan-perusahaan lain di kawasan tersebut juga tengah menjajaki bagaimana 6G dapat mendukung sistem kecerdasan buatan (AI) yang jauh lebih besar. Salah satu pengembang teknologi inspeksi bandara cerdas menyatakan bahwa jaringan yang lebih cepat dengan latensi lebih rendah dapat memungkinkan satu agen AI memproses data dari jauh lebih banyak kamera secara real-time.

"AI kami dapat beroperasi 24 jam sehari. Dengan 5G, satu AI dapat memantau 500 kamera. Dengan 6G, satu AI berpotensi menangani lebih dari 10.000 kamera. Dan karena AI kami perlu mengantisipasi berbagai peristiwa, perbedaan waktu beberapa detik saja bisa berdampak sangat besar," kata Chen Hao, Wakil General Manager Howchau Aviation Technology.

Pemerintah daerah juga turut memberikan dukungan finansial bagi upaya ini. Songjiang telah meluncurkan dana sebesar 300 juta yuan (sekitar 799,7 miliar rupiah) untuk mendukung pengembangan bisnis yang terkait dengan 6G. Proyek sains dan teknologi utama tertentu, serta perusahaan yang baru diakui sebagai perusahaan unicorn, juga dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif tambahan.

"Selama dua tahun terakhir, kami telah mengembangkan platform ini. Sebagai teknologi yang berpotensi membawa perubahan besar (disruptive) bagi industri masa depan, sebagian besar pekerjaannya melibatkan transformasi hasil penelitian laboratorium menjadi aplikasi praktis. Platform kami membantu perusahaan mengubah penelitian sains dan teknologi menjadi produk komersial," ujar Xiao Yang, Direktur Komisi Sains dan Teknologi Songjiang.

Kawasan ini kini menyatukan inkubator, fasilitas pembuktian konsep (proof-of-concept), layanan pengujian, dan perusahaan teknologi, seiring upaya Songjiang membangun ekosistem industri 6G yang lebih luas.

Pada tahun 2030, klaster industri 6G yang lebih luas di Songjiang diperkirakan akan menghasilkan nilai industri tahunan lebih dari 100 miliar yuan (sekitar 266,57 triliun rupiah).