New York, Bharata Online - Seorang utusan Tiongkok pada hari Selasa (27/10) menekankan bahwa satu-satunya cara yang layak untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran adalah melalui jalur politik dan diplomatik. Ia menyerukan kepada semua pihak untuk mendorong penghentian pertempuran serta memfasilitasi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam sebuah pengarahan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai masalah nuklir Iran, Fu menyatakan bahwa akar penyebab situasi saat ini adalah penarikan sepihak Amerika Serikat dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) serta penerapan kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran.

Ia menambahkan, serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran menjadi penyebab langsung mengapa badan terkait tidak dapat melaksanakan kegiatan pengamanan dan pemantauan di lokasi-lokasi tersebut.

Ia mengatakan bahwa Iran harus memenuhi komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sementara pihak-pihak lain harus menghormati hak Iran dalam pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai, serta mendukung badan terkait dan Iran dalam menyelesaikan masalah yang ada melalui dialog dan kerja sama.

"Amerika Serikat harus berkomitmen untuk menahan diri dari penggunaan kekuatan terhadap Iran, serta memastikan bahwa kegiatan pengamanan dan pemantauan dapat dilaksanakan secara efektif dalam lingkungan yang bebas dari ancaman paksaan militer," ujar Fu.

Seraya mencatat bahwa kembalinya permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran hanya akan mendatangkan bencana yang lebih besar bagi Timur Tengah, Fu menegaskan bahwa Dewan Keamanan harus menunjukkan sikap rasional dan tekad untuk menghentikan paksaan militer serta tindakan militer sepihak. Ia juga mendesak upaya berkelanjutan untuk memulihkan perdamaian dan ketenangan di Timur Tengah serta kawasan Teluk sesegera mungkin.

Fu juga menyatakan bahwa Resolusi Dewan Keamanan 2231, yang mengesahkan kesepakatan nuklir Iran, telah berakhir masa berlakunya pada 18 Oktober 2025. Oleh karena itu, menurutnya, Dewan Keamanan dan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) seharusnya tidak lagi meninjau masalah nuklir Iran.

Ia menyebutkan bahwa beberapa anggota Dewan telah mengabaikan fakta-fakta tersebut dan mendesak Dewan untuk mengadakan pertemuan di bawah agenda yang sebenarnya sudah tidak berlaku. Pendekatan ini, menurutnya, melemahkan wibawa resolusi Dewan Keamanan dan menghambat penyelesaian politik atas masalah nuklir Iran.

Menjelang pertemuan tersebut, perwakilan Rusia untuk PBB menuntut dilakukannya pemungutan suara prosedural terkait agenda sementara. Fu kemudian berbicara untuk menyampaikan penolakan Tiongkok terhadap agenda pertemuan tersebut. Dalam pemungutan suara prosedural, Rusia dan Tiongkok memberikan suara menentang agenda pertemuan tersebut.