Moskow, Bharata Online - Para cendekiawan dan tokoh politik dari enam negara menyoroti pentingnya upaya Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam menerapkan tata kelola internal partai yang menyeluruh dan ketat, guna menjaga kepercayaan publik serta memajukan pembangunan Tiongkok. Hal ini disampaikan seiring dengan dimulainya sidang pleno kelima Komite Sentral PKT ke-20 di Beijing pada hari Senin (26/10).

Ekaterina Zaklyazminskaya, Kepala Pusat Politik Dunia dan Analisis Strategis di Institut Tiongkok dan Asia Kontemporer di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, menekankan pentingnya upaya berkelanjutan untuk memperkuat disiplin dan tata kelola internal partai.

"Harapan utama saya untuk sidang pleno kelima ini adalah agar tata kelola internal partai yang menyeluruh dan ketat masuk dalam agenda pembahasan. Kami melihat hal ini sebagai langkah maju yang penting dalam pembangunan partai, yakni untuk membersihkan jajaran internal dan menegakkan disiplin. Kami sangat mendukung pendekatan PKT terhadap reformasi diri, pembersihan diri, dan penyempurnaan diri. Upaya-upaya ini dapat membantu partai untuk tetap berada di garda terdepan dalam menghadapi perubahan," ujar Zaklyazminskaya.

Pertanyaan mengenai bagaimana sebuah partai yang berkuasa dapat mempertahankan dukungan publik telah lama menjadi bagian dari diskursus di dalam PKT. Dalam sebuah percakapan pada tahun 1945 dengan tokoh pendidikan Huang Yanpei, Mao Zedong menyatakan bahwa kunci untuk keluar dari siklus sejarah kebangkitan dan kejatuhan adalah dengan menempatkan pemerintahan di bawah pengawasan rakyat. PKT menyebut hal ini sebagai jawaban pertama mereka atas pertanyaan tersebut.

Nenad Stekic, Asisten Profesor di Fakultas Studi Keamanan Universitas Beograd, mengaitkan jawaban kedua partai tersebut, yakni reformasi diri, terkait hubungannya dengan masyarakat umum.

"Presiden Xi Jinping telah berulang kali menekankan bahwa Partai Komunis Tiongkok harus melakukan reformasi diri, sebuah revolusi dari dalam, sebagai jawaban kedua atas pertanyaan tentang bagaimana cara keluar dari siklus sejarah kebangkitan dan kejatuhan. Mengapa beberapa dinasti bangkit lalu runtuh? Karena mereka kehilangan hubungan dengan rakyat biasa. Itulah sebabnya beliau menekankan bahwa partai harus tetap terhubung dengan rakyat. Saya yakin partai, di bawah kepemimpinan Xi, telah melakukan banyak hal untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Tiongkok," ujar Stekic.

Emin Gasimov, Direktur Pusat Studi Inisiatif Global, Pembangunan, dan Budaya Tiongkok di Azerbaijan, menekankan peran pembaruan diri partai dalam memajukan modernisasi Tiongkok.

"Saya melihat kontribusi khas Xi Jinping dalam mengaitkan prospek modernisasi negara dengan pembaruan berkelanjutan partai yang berkuasa. Menurut pandangan saya, poin utama dari pendekatannya terhadap tata kelola pemerintahan adalah bahwa kepemimpinan yang langgeng menuntut partai untuk terus menuntut lebih banyak dari dirinya sendiri. Kemampuan untuk memperbarui diri harus tercermin dalam pembangunan yang lebih baik bagi negara dan kualitas hidup yang lebih baik bagi rakyatnya," kata Gasimov.

Peneliti asal Brasil, Ronnie Lins, menyoroti peran kapasitas partai yang berkuasa untuk melakukan pembaruan diri dalam memperkuat institusi-institusi yang dipimpinnya.

"Kemampuan partai yang berkuasa untuk memperbarui diri merupakan sumber vital kekuatan kelembagaan. Dalam hal ini, pengalaman Tiongkok memberikan contoh penting: mereka mendasarkan revolusi diri pada pemurnian diri, berupaya untuk memperbaiki dan memperbarui diri, serta meningkatkan standar seiring dengan upaya melakukan reformasi yang lebih mendalam dari dalam," kata Lins, Direktur Pusat Penelitian dan Bisnis Tiongkok-Brasil.

Lins juga menekankan hubungan antara tata kelola pemerintahan yang efektif dengan peningkatan taraf hidup masyarakat.

"Salah satu aspek paling signifikan dari pendekatan Partai Komunis Tiongkok dalam memerintah adalah kesadaran bahwa tata kelola internal partai yang ketat dan tata kelola pemerintahan yang lebih baik pada akhirnya memiliki tujuan yang sama: meningkatkan kehidupan rakyat. Pengalaman tersebut menawarkan pelajaran berharga bagi Amerika Latin," tutur Lins.

Tata kelola internal partai yang menyeluruh dan ketat merupakan salah satu dari empat komponen dalam Strategi Komprehensif Empat Aspek (Four-Pronged Comprehensive Strategy) Partai Komunis Tiongkok. Tiga komponen lainnya adalah membangun negara sosialis modern dalam segala aspek, memperdalam reformasi, dan memajukan tata kelola berbasis hukum.

"Saya meyakini bahwa tata kelola internal partai yang menyeluruh dan ketat itu penting karena, dalam praktiknya, hal tersebut berarti memperkuat demokrasi di Tiongkok. Menurut pandangan saya, Strategi Komprehensif Empat Aspek ini sangat sesuai dengan kondisi Tiongkok," ujar mantan Perdana Menteri Hungaria, Peter Medgyessy.

Analis politik asal Tanzania, Hildebrand Shayo, menyoroti tuntutan yang muncul dari penerapan tata kelola mandiri di dalam Partai terhadap pihak-pihak yang memegang kekuasaan.

"Signifikansinya jelas. Penekanan Presiden Xi Jinping pada pelaksanaan tata kelola yang menyeluruh dan ketat di dalam Partai mencerminkan pandangan bahwa partai yang berkuasa harus terus memperkuat disiplin, integritas, kapasitas kelembagaan, serta kemampuannya dalam memimpin pembangunan nasional. Makna penting ini dapat dipahami melalui tiga istilah kunci: 'menyeluruh', 'ketat', dan 'tata kelola'," ujar Shayo.

Shayo juga membahas tanggung jawab partai yang berkuasa dalam memperkuat kepemimpinannya, menjaga disiplin internal, serta mempertahankan kepercayaan publik.

"Prinsip utamanya adalah bahwa partai politik yang diberi kepercayaan untuk memerintah suatu negara harus terus memperkuat kepemimpinannya, mengatur perilaku para anggotanya, dan yang tak kalah penting, menjaga kepercayaan publik," ujar Shayo.