Beijing, Bharata Online - Kunjungan Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, ke Tiongkok akan menjadi momen penting bagi hubungan bilateral, mengingat kedua negara memiliki potensi kerja sama yang besar di berbagai bidang, termasuk ekonomi, isu iklim, dan pertukaran budaya, kata Duta Besar Jerman untuk Tiongkok, Philipp Ackermann.

Atas undangan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, Steinmeier akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok dari tanggal 27 hingga 31 Oktober 2026, ungkap Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, Jumat (23/10) lalu.

Selama kunjungan tersebut, Xi akan mengadakan pembicaraan dengan Steinmeier. Selain itu, Perdana Menteri Li Qiang dan Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji juga akan bertemu dengannya untuk bertukar pandangan mengenai hubungan bilateral serta berbagai isu yang menjadi kepentingan bersama. Mao menambahkan bahwa selain Beijing, Steinmeier juga akan mengunjungi Provinsi Anhui di Tiongkok Timur.

"Kami sangat menantikan kunjungan kenegaraan ini. Ini akan menjadi salah satu kunjungan luar negeri terakhir Presiden Steinmeier, mengingat masa jabatannya akan berakhir awal tahun depan. Menurut saya, keputusannya untuk menjadikan Tiongkok sebagai salah satu tujuan kunjungan terakhirnya merupakan gestur yang sangat berarti. Beliau mengenal Tiongkok dengan baik. Beliau sering berkunjung saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, dan terus melakukannya setelah menjabat sebagai Presiden. Bagi kami, ini adalah peristiwa besar. Saya yakin ini akan menjadi momen penting bagi hubungan bilateral kita, bukan hanya melalui kunjungan ke universitas atau perjalanan ke Provinsi Anhui, melainkan terutama melalui diskusi dengan Presiden Tiongkok. Kami benar-benar menantikannya, dan saya percaya ini akan menjadi momen yang luar biasa bagi kita semua, baik bagi pihak Tiongkok maupun Jerman," ujar Ackermann dalam sebuah wawancara dengan China Media Group (CMG).

Pada hari Minggu (25/10), sang duta besar mengunjungi Beijing Foreign Studies University (BFSU), sebuah institusi di Beijing yang berfokus pada bahasa asing dan studi internasional, dengan menekankan bahwa kerja sama erat serta pertukaran akademik antara universitas dan lembaga pendidikan tinggi di Tiongkok dan Jerman memiliki nilai yang sangat tinggi.

"Hal yang menurut saya sangat mengesankan di BFSU adalah luasnya ruang lingkup kerja sama universitas, kolaborasi akademik, dan pertukaran ilmiah. Banyak mahasiswa yang menghabiskan satu semester atau menyelesaikan seluruh masa studinya di Jerman, sementara mahasiswa Jerman datang ke Tiongkok untuk mendalami bidang-bidang seperti ekonomi, perlindungan lingkungan, dan aksi iklim. Ada begitu banyak aspek yang dapat kita gunakan untuk semakin memperkuat kerja sama kita, dan saya berharap dapat mewujudkannya selama masa jabatan saya," kata duta besar tersebut.