Hangzhou, Bharata Online - Para peneliti Tiongkok memadukan teknologi 6G dengan pelatihan dan validasi robot di fasilitas pengujian khusus di Beijing, dengan tujuan menjadikan robot pintar lebih andal dan terjangkau saat beralih dari prototipe laboratorium menuju penerapan di dunia nyata.

Di lokasi pengujian khusus di Kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur, seekor robot berkaki empat melakukan gerakan membalik, melompat, dan memanjat melewati jalur rintangan yang menantang. Tujuannya bukan sekadar memamerkan kemampuannya, melainkan untuk melihat seberapa baik kinerjanya dalam kondisi dunia nyata.

"Kami sedang menguji stabilitas kontrol geraknya di berbagai skenario dan medan yang kompleks, termasuk tanjakan, permukaan yang dipenuhi puing-puing, dan lingkungan berat lainnya," ujar Zhang Tianyi, Manajer Produk Platform Uji Coba Robot Humanoid Zhejiang.

Tantangannya adalah lingkungan dunia nyata tidak dapat diprediksi. Agar AI dapat mengendalikan robot secara andal, sistem tersebut harus beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebuah pendekatan yang dikenal sebagai AI fisik. Itulah sebabnya fasilitas pengujian khusus di Laboratorium 6G Beijing didirikan untuk memadukan 6G dengan pelatihan dan validasi robot.

"Siklus tertutup yang utuh berupa 'penginderaan-pengambilan keputusan-eksekusi' harus berfungsi sepenuhnya. Setiap tahapan menuntut standar yang sangat tinggi terkait latensi dan stabilitas; penundaan sepersekian detik saja dapat memicu kesalahan fatal," kata Liu Guangyi, Kepala Ahli di China Mobile Group sekaligus kepala ilmuwan di ZGC-XNET.

Jaringan yang ada saat ini, termasuk 5G-A, menghadapi batasan yang signifikan. Respons sinyal yang lambat tidak mampu mendukung operasi robot yang berdurasi panjang dan membutuhkan presisi tinggi.

Teknologi 6G mengubah hal tersebut dengan menghadirkan latensi yang hampir seketika, konektivitas perangkat dalam jumlah masif, dan sinyal yang sangat stabil.

Lokasi pengujian di Laboratorium 6G Beijing mereplikasi kondisi kerja nyata, sehingga membantu robot beralih dengan lebih mulus dari prototipe laboratorium menuju penerapan di lapangan.

"Teknologi ini memungkinkan otak AI berbasis cloud untuk mengendalikan robot fisik dalam hitungan milidetik," ujar Liu.

Komputasi awan (cloud computing) yang didukung 6G juga membebaskan robot dari kebutuhan akan perangkat keras internal yang besar dan berat, sehingga robot menjadi lebih ringan, lebih hemat biaya, dan memiliki masa pakai lebih lama.

Perubahan tersebut kini mulai menunjukkan hasilnya di pasar.

"Robot kami telah mendapatkan pesanan untuk hampir 100 unit sejauh ini, dan pengiriman massal diperkirakan akan dilakukan pada akhir tahun ini," ujar Ling Lei, Manajer Produk Robot Humanoid Cerdas WUBA.

Selain menyediakan robot, fasilitas ini menawarkan dukungan menyeluruh bagi perusahaan lokal, yang mencakup penelitian, pelatihan, dan sertifikasi. Lokasi pengujian ini diproyeksikan dapat mendorong nilai produksi industri robot cerdas lokal hingga melampaui 10 miliar yuan (sekitar 27 triliun rupiah) pada tahun 2027.

"Bahkan saat ratusan perangkat terhubung secara bersamaan, transmisi data dan sinkronisasi perintah tetap stabil," kata Liu.